PROGRAM SUPLEMENTASI TABLET ZINC DAN ORALIT UNTUK TERAPI DIARE PADA BALITA DI KABUPATEN LOMBOK BARAT

Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Kabupaten Lombok Barat, hal ini dapat dilihat dengan meningkatnya angka kesakitan diare dari tahun ke tahun. Data penemuan kasus diare di Kabupaten Lombok Barat pada 3 tahun terakhir terlihat mengalami peningkatan yaitu 23.424 kasus  pada tahun 2010, 29.982 kasus pada tahun 2011 dan 31.305 kasus pada tahun 2012. Pada tahun 2011, penyakit diare dan disentri menempati posisi nomor 4 dan 5 dalam daftar 10 penyakit terbanyak pada balita di Kabupaten Lombok Barat. Sementara itu sepanjang tahun 2012 terdapat 3 kasus kematian balita akibat diare yang terlaporkan.

Sejak tahun 2011, Micronutrient Initiative Indonesia (MII) bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat dalam upaya “Suplementasi Tablet Zinc untuk program pengendalian penyakit diare pada balita”. Berbagai bentuk kerjasama tersebut telah dilakukan baik dalam bentuk pertemuan, pelatihan, peningkatan kapasitas, sampai dengan Monitoring dan Evaluasi bagi petugas kesehatan dan kader di wilayah Kabupaten Lombok Barat. Setelah berbagai  bentuk kerjasama dilakukan selama tahun 2011 hingga pertengahan tahun 2012, pada akhir tahun 2012 hingga tahun 2013 ini kegiatan evaluasi dilakukan untuk menilai hasil dari kegiata-kegiatan yang telah dilakukan sebelumnya, extender (pendamping) MII dan programer diare Kabupaten Lombok Barat telah melakukan analisis data kasus diare balita dan kunjungan ke tenaga kesehatan serta pasien diare. Dari analisis data kasus diare balita yang ada dan kunjungan-kunjungan yang telah dilakukan, didapatkanlah data yang bisa dilihat pada grafik di bawah.

Graf 1Grafik diatas memaparkan hasil temuan kasus diare di Kabupaten Lombok Barat pada tahun 2012, dimana target penemuan kasus diare adalah sebanyak 20% dari total perkiraan kasus diare. Berdasarkan data tersebut terlihat bahwa setiap bulannya hasil temuan kasus diare sudah melebihi dari target 20%. Namun masih ada perkiraan 80% kasus diare yang belum terdeteksi dan tidak diketahui kemana orang tua/pengasuh pasien diare tersebut mencari pengobatan.

Perhitungan data diatas menggunakan perkiraan episode 1,3 dimana angka ini juga dinilai masih rendah. Jika kita membandingkan dengan negara berkembang lainnya, episode 1,3 masih rendah karena Indonesia merupakan negara berkembang dimana pada kenyataannya seorang balita bisa mengalami diare dengan episode lebih dari 1,3 setiap tahunnya. Hal ini berarti target yang tertera dalam data diatas masih jauh dari perkiraan target sesungguhnya, sehingga mungkin masih lebih banyak lagi balita yang luput dan tidak diketahui kemana orang tua/pengasuh balita mencari pertolongan ketika mengalami diare.

Mengingat tingginya perkiraan kasus diare yang terjadi di masyarakat dan tidak terdeteksi oleh tenaga kesehatan, sangat dibutuhkanlah kontribusi kader kesehatan dalam upaya penemuan kasus diare yang tidak terjangkau oleh tenaga kesehatan. Berdasarkan hal itulah, Kabupaten Lombok Barat terus berupaya meningkatkan kemitraan antara kader kesehatan dengan tenaga kesehatan. Hasil dari kerjasama tersebut terpapar dalam grafik berikut ini :

Graf 2

Terlihat jelas dari grafik diatas betapa kader memiliki kontribusi yang sangat besar dalam upaya penemuan kasus diare di masyarakat, terutama diare balita. Memang dalam program diare di Kabupaten Lombok Barat, balita menjadi sorotan utama karena balita lebih rentan terhadap penyakit diare dan lebih mudah mengalami dehidrasi ringan, sedang hingga berat ketika mengalami diare.

Dalam kerjasama kader kesehatan dengan tenaga kesehatan ini, kader sudah diberikan bekal Oralit sebagai bentuk pertolongan pertama kader untuk pasien diare yang datang mencari pertolongan kepada kader kesehatan. Melihat tingginya potensi kader sebagai ujung tombak tenaga kesehatan di masyarakat, perlu menjadi pertimbangan selanjutnya untuk membekali kader dengan tablet Zinc, apalagi sebagian besar pasien diare yang datang ke kader adalah pasien diare balita. Tindak lanjut dari pertimbangan tersebut pun telah dilaksanakan pada awal hingga pertengahan tahun 2013 dimana masing-masing puskesmas di Kabupaten Lombok Barat telah menyiapkan anggaran untuk melaksanakan Workshop Kader Kesehatan dengan tema “Sosialisasi Tablet Zinc untuk Kader Kesehatan di Kabupaten Lombok Barat”. Kegiatan ini merupakan langkah awal untuk meningkatkan pengetahuan kader mengenai terapi pasien diare balita terkini sebelum akhirnya kader dibekali Oralit dan Tablet Zinc.

Graf 3

Grafik diatas menjelasakan tentang rata-rata pemberian Oralit baik oleh tenaga kesehatan maupun oleh kader kesehatan. Terlihat  bahwa baik di sarana kesehatan maupun di masyarakat, semua pasien diare sudah mendapatkan Oralit sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Kementrian Kesehatan RI yaitu sebanyak 6 bungkus Oralit per-pasien diare.

Rata-rata pendistribusian tablet Zinc di Sarana Kesehatan pada tahun 2012 sudah hampir mencapai standar. Jika dilihat dari grafik diatas, rata-rata pemberian tablet Zinc kepada pasien diare balita menunjukkan angka 9.68 tablet dimana angka ini dianggap sudah memenuhi standar karena hampir mencapai angka 10. Perlu diketahui bahwa dosis pemberian tablet Zinc adalah 5 tablet untuk bayi usia kurang dari 6 bulan dan 10 tablet untuk bayi/balita diatas 6 bulan. Mengingat dari data yang ditampilkan juga terdapat bayi usia dibawah 6 bulan, maka perhitungan rata-rata pemberian tablet Zinc tidak dapat  menghasilkan angka bulat yaitu 5 atau 10. Oleh sebab itu, dianggap angka 9.68 sudah memenuhi standar dalam pemberian tablet Zinc untuk terapi diare balita.

Graf 4Dalam grafik diatas, data yang ditampilkan adalah perbandingan data di Kabupaten Lombok Barat dan Kabuapten Lombok Timur. Data perbandingan kedua kabupaten tersebut berdasarkan proyek Suplementasi Tablet Zinc dan Oralit untuk terapi diare balita oleh MII dan Dinas Kesehatan dilakukan di kedua kabupaten tersebut.

Sejak tahun 2004 silam, dua Lembaga Kesehatan Dunia (WHO dan UNICEF) telah menandatangani kebijakan tentang pengobatan diare balita dengan pemberian tablet Zinc dan Oralit selama kurang lebih 2 minggu. Namun di Indonesia sendiri, tablet Zinc hanya diberikan selama 10 hari berturut-turut. Hal tersebut didasarkan pada penelitian yang telah dilakukan selama 20 tahun lebih (mulai tahun 1980an sampai dengan tahun 2003) dimana hasilnya menunjukkan bahwa pengobatan dengan pemberian Oralit dan Zinc terbukti efektif dalam menurunkan tingginya angka kematian anak akibat diare sampai 40%.

Di Kabupaten Lombok Barat sejak tahun 2009 sudah mulai memberikan tablet Zinc untuk terapi diare balita, meskipun pada saat itu pemberian tablet Zinc masih belum sesuai standar karena belum adanya sosialisasi. Begitu pulan dengan sistem pelaporan penemuan kasus setiap bulannya masih belum menyertakan laporan penggunaan tablet Zinc. Baru pada akhir tahun 2012 dilakukan sedikit perubahan dalam penulisan format laporan penemuan kasus dimana pada saat itu disertakan kolom tambahan yang berisi jenis terapi yang diberikan khusus untuk balita, antara lain pemberian Oralit saja, tablet Zinc saja atau diberikan Oralit dan tablet Zinc. Berdasarkan perubahan format laporan, maka didapatkanlah data seperti grafik. Graf 5

Dapat dilihat dari grafik diatas bahwa pemberian tablet Zinc sudah rata-rata diatas 90%. Meskipun demikian, hal ini masih dirasa kurang karena target dari pemerintah adalah 100%. Namun, seiring berjalannya waktu dan sosialisasi yang akan terus dilaksanakan, bisa saja target 100% balita mendapatkan Oralit dan tablet Zinc akan dicapai.

Pada akhir tahun 2012 juga mulai diadakan evaluasi dari hasil kegiatan-kegiatan kerjasama yang telah dilaksanakan sejak tahun 2011 hingga tahun 2012. Evaluasi ini dikerjakan oleh extender MII dan petugas pengelola program. Dalam melaksanakan evaluasi ini, kedua petugas tersebut turut langsung ke lapangan, baik ke tenaga kesehatan maupun kunjungan rumah terhadap pasien diare. Kegiatan ini dilaksanakan dengan menggunakan ceklist supervisi yang dibuat oleh tim dari MII. Hasil dari penggunaan ceklist supervisi dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Graf 6

Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa rata-rata petugas kesehatan sudah cukup memahami tanda-tanda dehidrasi, sudah mengetahu dosis dan lama pemberian tablet Zinc, tahu cara menyiapkan tablet Zinc meskipun untuk cara menyiapkan Oralit masih banyak yang belum benar-benar tepat. Ketidak tepatan petugas dalam menunjukkan cara menyiapkan Oralit umumnya adalah karena lupa menyebutkan atau menunjukkan cara mencuci tangan dengan sabun sebelum menyiapkan Oralit.

Tingkat pengetahuan petugas secara umum tentang tatalaksana pengobatan diare pada balita sangatlah penting karena hal ini akan berpengaruh langsung kepada tingkat pengetahuan ibu/pengasuh yang datang membawa anaknya untuk berobat. Jika petugas memiliki pengetahuan yang sesuai dengan standar dan mampu memberikan konseling yang baik kepada ibu/pengasuh, maka akan berpengaruh kepada tingkat kepatuhan ibu/pengasuh dalam memberikan pengobatan diare kepada balita.

Graf 7

Tabel diatas menunjukkan data yang didapatkan dari hasil kunjungan rumah. Memang dari data diatas terlihat ada penurunan yang cukup signifikan jika kita membandingkan antara data pada bulan Agustus – Oktober dengan data November – Januari. Pada bulan-bulan pertama pelaksanaan evaluasi dengan ceklist supervisi mendapatkan hasil yang baik karena seluruh pasien yang dikunjungi adalah pasien yang datang berobat ke Puskesmas, sehingga seluruh pasien mendapatkan Oralit dan tablet Zinc sesuai dengan standar. Selain itu seluruh pasien tahu dosis dan cara pemberian Oralit dan tablet Zinc meskipun tidak ada satupun dari mereka yang tahu manfaat pemberian tablet Zinc.

Jika kita melihat pada data di kolom selanjutnya, ada penurunan jumlah pasien yang menerima Oralit dan tablet Zinc. Hal ini disebabkan karena pada saat melakukan kunjungan rumah, sering kali extender dan petugas kabupaten menemukan balita lain yang tinggal diwilayah yang dikunjungi juga mengalami diare namun tidak membawa balitanya untuk berobat ke Sarana Kesehatan dan hanya mengandalkan obat warung atau bahkan membawa anaknya untuk berobat ke tenaga kesehatan yang berpraktek swasta. Bervariasinya jenis pasien yang ditemui di lapangan ternyata memberikan pengaruh dalam penggunaan ceklist supervisi pada saat kunjungan rumah. Selain dari variasi pasien yang dikunjungi, semakin baiknya para enumerator dalam melakukan wawancara kepada ibu/pengasuh juga memberikan dampak dimana data yang disajikan semakin akurat dari data sebelumnya.

Berdasarkan dari hasil analisis data program suplementasi tablet Zinc dan Oralit untuk terapi diare pada balita di Kabupaten Lombok Barat, diketahui bahwa masih banyak hal yang perlu dibenahi dalam pelaksanaan program diare di Kabupaten Lombok Barat antara lain :

  1. Perlu dilakukan upaya-upaya untuk meningkatkan penemuan kasus diare di kabupaten Lombok Barat. Berdasarkan data DHS tahun 2012 untuk Provinsi NTB terdapat 63,8% kasus diare balita dibawa ke Sarana Kesehatan.
  2. Melihat potensi kader yang besar, perlu dilakukan pemberdayaan kader dalam penemuan kasus diare balita antara lain melalui pertemuan, sosialisasi, pelatihan dan pemahaman mengenai cara pemberian Zinc dan terapi diare pada kader kesehatan.
  3. Tingginya penggunaan tablet Zinc di Kabupaten Lombok Barat diperkirakan karena masih ada tenaga kesehatan yang memberikan tablet Zinc untuk orang dewasa atau untuk usia diatas 5 tahun. Maka perlu dilakukan sosialisasi agar pemberian tablet Zinc khusus hanya untuk kasus diare balita.
  4. Perlu ada ketepatan waktu dan kelengkapan data dalam pengiriman laporan. Selain itu petugas perlu benar-benar memperhatikan kolom balita yang hanya diberikan Oralit saja atau tablet Zinc saja atau sudah diberikan Oralit dan tablet Zinc.
  5. Perlu dilakukan pemberdayaan pada Pustu, Poskesdes/Polindes dan Kader Kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan anak/balita khususnya penangan kasus diare.

Sumber referensi :

  1. Buku Pedoman Pengendalian Penyakit Diare, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2011
  2. Buku Saku Petugas Kesehatan Lintas Diare, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2011
  3. Menangani Diare Pada Anak Balita, Micronutrient Initiative Indonesia, 2012
  4. Laporan Penemuan Kasus Diare di Kabupaten Lombok Barat, Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat, 2012
  5. Laporan Penemuan Kasus Diare di Kabupaten Lombok Barat, Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat, 2013
  6. Ceklist Supervisi, Micronutrient Initiative Indonesia, 2012

Penulis ;

dr. I Gusti Ayu Rai Astarini M. Kes

NIP 19660622 199603 2 001

Pembina – IV/a

Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan

Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s